Postingan

Menampilkan postingan dengan label Filsafat Eksistensialisme

Budaya Healing: Antara Cinta Diri dan Komodifikasi Luka

Gambar
Langit sedang mendung ketika saya selesai mengisi seminar diskusi di suatu cafe di Makassar. Saya tidak langsung pulang. Saya lalu duduk di meja yang kosong sambil memesan hidangan yang cocok di saat cuaca mendung. Sembari melanjutkan buku bacaan saya, di meja sebelah, sepasang anak muda sedang asyik bercakap sambil memegang buku dengan sampul bergambar perempuan bersayap, berjudul The Art of Healing. Mereka tertawa kecil, lalu memotret kopi mereka, dan akhirnya swafoto dengan caption, "healing dulu ya." Saya hanya tersenyum. Bukan karena sinis, tetapi karena saya paham bahwa kita semua, mungkin tanpa terkecuali, sedang dalam proses pemulihan. Ada luka yang tidak selesai di masa kecil. Ada tekanan kerja, kehilangan orang tercinta, atau sekadar rasa lelah eksistensial yang tak bisa diberi nama. Kita mencari-cari kata yang tepat, dan akhirnya "healing" menjadi jawaban generik yang diterima oleh publik. Namun demikian, saya bertanya dalam hati. Apa sebenarnya yang s...

Tren Minimalisme: Seni Mengatur Hasrat dan Merayakan Kesederhanaan

Gambar
Sejak dulu, saya selalu tertarik mengamati bagaimana manusia menjalani hidupnya. Sebagian mereka memilih untuk terus mengejar lebih banyak, sebagian lagi memilih untuk melepaskan. Ada yang mengisi hari-harinya dengan tumpukan ambisi dan kesibukan, lalu ada juga yang perlahan memisahkan diri dari riuhnya dunia, sembari mencari makna dalam kesunyian. Pernah suatu hari, saya sedang duduk di kantin kampus. Seorang teman yang sudah lama tidak saya jumpai datang menghampiri. Percakapan kami melebar dari kenangan lama hingga ke perbincangan soal hidup yang semakin penuh dengan tuntutan. Ia lalu berkata, "Hidup ini memang lucu ya, semakin banyak yang kita miliki, semakin sering kita merasa kehilangan." Pernyataannya membuat saya diam cukup lama. Ada benarnya juga, bahwa semakin kita menumpuk harta, benda, pengalaman, bahkan pencapaian, justru semakin sering kita merasa kosong. Seakan-akan dalam upaya untuk mengisi hidup, kita malah kehilangan esensi dari kehidupan itu sendiri. Tren m...

Filsafat Tak Tinggal di Menara Gading, Ia adalah Nafas Sehari-hari

Gambar
Hemat saya, filsafat sejak awal kelahirannya, bukanlah semata-mata tentang konsep-konsep abstrak yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang hidup di menara gading. Filsafat lahir dari kekaguman, dari rasa heran yang sangat manusiawi, dari keinginan untuk memahami hidup yang begitu dinamis, kompleks, dan tak jarang melelahkan. Saya percaya bahwa filsafat, sebagaimana yang diimpikan oleh para filsuf awal, mestinya kembali ke akar kemanusiaannya, yaitu menjadi lentera yang menyinari hidup sehari-hari, dan bukan hanya perdebatan akademik yang terkurung dalam seminar dan jurnal ilmiah. Maka dari itu, saya lebih nyaman memposisikan filsafat sebagai sahabat yang diam-diam menuntun, dan bukan sebagai hakim yang sibuk menghakimi. Pernah suatu pagi, ketika saya berjalan menyusuri lorong rumah menuju jemputan mobil, saya teringat pada kata-kata Hannah Arendt (1906-1975), bahwa berpikir bukanlah sebuah aktivitas mewah, melainkan tanggung jawab moral. Hari ini, di mana dunia semakin dipenuhi kebisi...

Perempuan dalam Bayang-Bayang Pujian Dangkal

Gambar
"Seorang perempuan selalu mudah dipengaruhi dengan diberi pujian-pujian mengenai penampilannya daripada mengenai jalan pikirannya." _Simone de Beauvoir. Saya sering bertanya-tanya, mengapa pujian untuk perempuan lebih sering berkutat pada kecantikannya dibandingkan dengan cara berpikirnya? Sebenarnya, ini bukan sekadar fenomena sosial yang terjadi di media atau ruang publik. Tetapi, ini adalah refleksi dari cara kita membentuk makna perempuan sejak kecil. Kita bisa melihatnya dalam keluarga, dalam pendidikan, atau dalam budaya kita secara umum, di mana kecantikan bagi perempuan menjadi tolok ukur utama yang lebih diutamakan dibandingkan kedalaman pikirannya. Ketika masih kecil, seorang anak perempuan lebih sering dipanggil "cantik" sebelum ia dipanggil "cerdas." Seolah-olah nilai dirinya ada pada bagaimana orang melihatnya, bukan bagaimana ia melihat dunia. Dalam hal ini, ada pola yang terus berulang, yaitu perempuan memang di didik untuk menjadi cantik, m...

Melawan Pelecehan Seksual: Perspektif Simone de Beauvoir

Gambar
Pelecehan seksual ibarat bayangan hitam yang merusak ruang-ruang akademik. Ia tidak datang begitu saja, melainkan tumbuh dari akar yang dalam, yaitu ketimpangan kuasa dan budaya patriarki yang mengakar selama berabad-abad. Kampus, tempat di mana ilmu pengetahuan seharusnya tumbuh subur, sering kali menjadi panggung di mana dominasi dan subordinasi dipertontonkan. Dalam The Second Sex, Simone de Beauvoir menulis dengan lantang: "Laki-laki adalah Subjek, sedangkan perempuan adalah liyan." Pernyataan ini tidak hanya menjadi refleksi sosial, tetapi juga menemukan relevansinya dalam ruang akademik. Mahasiswi yang duduk di bangku kuliah sering kali merasa menjadi "liyan," berada di bawah bayang-bayang otoritas laki-laki. Ketika kekuasaan dosen berubah dari alat mendidik menjadi alat menekan, relasi pedagogis berubah menjadi jerat kekuasaan yang membungkam. Di dalam ruang perkuliahan, konsep liyan menjadi nyata. Mahasiswi bukan sekadar peserta didik, tetapi mereka adalah y...

Perempuan dalam Filsafat Eksistensialisme Simone De Beauvoir (Part 2)

Gambar
                                      Pada tulisan sebelumnya; Perempuan dalam Filsafat Eksistensialisme Simone De Beaufoir; Part 1” telah diurai landasan mengapa Beauvoir melakukan kritik pada dunia patriarki. Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud mampu menyarikan landasan yang dimaksud, tetapi setidaknya berupaya memberi gambaran ringkas dari literatur-literatur yang dijumpai. Seperti diketahui, situasi dunia sejak masa nomaden hingga akhir revolusi Prancis yang menggambarkan perempuan sebagai liyan, ternyata belum berhenti disana. Bahkan di barat awal modern perempuan masih konsisten dalam situasi liyan itu. Perempuan masih selalu dicitrakan rendah, buruk, dan semua yang berkonotasi kotor dan kejahatan. Contoh sederhana dijumpai dalam tradisi barat adalah istilah nenek sihir dan sebaliknya istilah kakek sihir hampir saja tidak ada.  Tidak hanya pelabelan, di abad pertengahan sewaktu-w...

Perempuan dalam Filsafat Eksistensialisme Simone De Beauvoir (Part 1)

Gambar
Simone De Beauvoir selain seorang filsuf, feminis, novelis asal Prancis, juga salah satu kiblat feminisme modern atas narasi-narasi kritisnya mengenai ketidakadilan gender sebagaimana terangkum dalam salah satu karyanya “The Second Sex”. Karyanya, Le Deuxieme Sexe (The Second Sex) inilah yang kemudian mengantarkannya pada pemikiran feminisme eksistensial.  Beauvoir mengawali kritiknya dengan mengurai akar penindasan perempuan yang notabene sudah terwujud di zaman kerajaan-kerajaan kuno; dahulu kala. Ironisnya, nasib perempuan di dunia yang sedari awal tertindas, justru tidak disadari oleh sebagian besar perempuan hingga hari ini. Dasar ketidaksadaran perempuan salah satu diantaranya adalah marginalisasi perempuan sebagai liyan dalam kultur yang dikonstruk laki-laki sudah terlanjur mengakar, dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek, tegas Beauvoir. Berbeda dengan feminisme lainnya yang melakukan perjuangan di ranah publik, Simone De Beauvoir dalam feminisme eksist...