Postingan

Menampilkan postingan dengan label Filsafat Perempuan

Sebuah Perjalanan Pemikiran: Telaah atas Perjalanan Lintas Batas Karya Musdah Mulia

Gambar
Tak bisa disangkal, kita hidup dalam dunia yang gemar memberi batas. Antara laki-laki dan perempuan, antara Muslim dan non-Muslim, antara yang disebut saleh dan yang dituduh sesat. Dalam realitas yang sarat sekat itu, buku ini hadir seperti hujan pertama yang menyapa tanah kering. Membawa harapan, menyuburkan dialog, dan merayakan perjumpaan. Perjalanan Lintas Batas bukan sekadar judul. Tetapi lebih sebagai kesaksian. Kesaksian seorang perempuan, cendekia, dan pejuang yang berjalan menembus sunyi meski tubuh terluka, pikiran yang mengendap, dan hati yang masih percaya bahwa iman dan cinta bisa menjembatani segala yang koyak. Buku ini bukan sekadar refleksi, tetapi lebih sebagai doa panjang yang dirangkai dalam narasi yang jujur, halus, dan tajam. Prof. Musdah menulis buku ini, bukan dari menara gading akademik, tetapi dari lorong-lorong perjuangan. Dari ruang-ruang dialog antar-iman yang hangat meski tegang, dari sunyi perempuan yang disalahpahami oleh tafsir yang kaku, dari perjalana...

Tuhan, Tradisi, dan Kartini: Renungan Seorang Perempuan

Gambar
Hari masih pagi, ketika saya sedang duduk di beranda rumah di kampung, sembari berbincang lewat telepon dengan seorang teman di Jepara, tempat kelahiran Kartini. Hujan baru saja reda, cuaca sangat dingin, lalu sesekali saya meneguk teh hangat yang baru saja kuseduh. Kami sedang berbincang tentang perempuan, pendidikan, dan tradisi. Tiba-tiba saja ia mengirim pesan gambar via WhatsApp. Rupanya secarik kertas berisi kutipan dari surat Kartini (1879–1904) kepada sahabatnya, Abendanon (1870–1948). Tertulis dalam kutipannya: "Habis gelap terbitlah terang. Aku ingin perempuan menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menjadi istri atau ibu." Saya membacanya, lalu terdiam lama. Kalimat itu begitu ringkas, namun membuka lubang-lubang panjang dalam pikiran saya. Kartini bukan sekadar sosok sejarah. Tetapi ia adalah suara dalam diri saya yang sejak lama bergema samar, sering tenggelam oleh kebisingan dogma dan batas-batas yang diwariskan. Nama itu selalu datang dan pergi, seperti udara y...

Luka di Balik Kekuasaan: Membaca Budaya Kekerasan Seksual di Indonesia

Gambar
Saya punya kebiasaan ketika selesai mengisi seminar diskusi, tidak segera meninggalkan lokasi diskusi. Saya memilih tinggal beberapa saat untuk melanjutkan diskusi bersama peserta forum dalam suasana yang lebih santai. Di antara mereka ada yang curhat, ada juga yang meminta kontak untuk bisa berdiskusi secara lebih personal. Hari itu, saya memberikan materi tentang keadilan gender dalam sebuah forum akademik kecil di Makassar. Seperti biasa, bicara soal perempuan membuat isi kepala saya dipenuhi cerita-cerita miris yang dibagikan peserta. Kisah tentang pelecehan di rumah oleh ayah atau paman sendiri, di kampus oleh oknum dosen, di rumah sakit oleh dokter, kekerasan di tempat kerja, guru mengaji terhadap santrinya, antar teman, antar mahasiswa, dan sebagainya. Forum telah usai, sembari melanjutkan diskusi santai, di meja paling sudut, ada dua mahasiswi tampak membicarakan sesuatu dengan suara sangat pelan. Saya tidak berniat menguping, namun satu kalimat yang terdengar membuat saya melo...

Filsafat Tak Tinggal di Menara Gading, Ia adalah Nafas Sehari-hari

Gambar
Hemat saya, filsafat sejak awal kelahirannya, bukanlah semata-mata tentang konsep-konsep abstrak yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang hidup di menara gading. Filsafat lahir dari kekaguman, dari rasa heran yang sangat manusiawi, dari keinginan untuk memahami hidup yang begitu dinamis, kompleks, dan tak jarang melelahkan. Saya percaya bahwa filsafat, sebagaimana yang diimpikan oleh para filsuf awal, mestinya kembali ke akar kemanusiaannya, yaitu menjadi lentera yang menyinari hidup sehari-hari, dan bukan hanya perdebatan akademik yang terkurung dalam seminar dan jurnal ilmiah. Maka dari itu, saya lebih nyaman memposisikan filsafat sebagai sahabat yang diam-diam menuntun, dan bukan sebagai hakim yang sibuk menghakimi. Pernah suatu pagi, ketika saya berjalan menyusuri lorong rumah menuju jemputan mobil, saya teringat pada kata-kata Hannah Arendt (1906-1975), bahwa berpikir bukanlah sebuah aktivitas mewah, melainkan tanggung jawab moral. Hari ini, di mana dunia semakin dipenuhi kebisi...

Perempuan dalam Bayang-Bayang Pujian Dangkal

Gambar
"Seorang perempuan selalu mudah dipengaruhi dengan diberi pujian-pujian mengenai penampilannya daripada mengenai jalan pikirannya." _Simone de Beauvoir. Saya sering bertanya-tanya, mengapa pujian untuk perempuan lebih sering berkutat pada kecantikannya dibandingkan dengan cara berpikirnya? Sebenarnya, ini bukan sekadar fenomena sosial yang terjadi di media atau ruang publik. Tetapi, ini adalah refleksi dari cara kita membentuk makna perempuan sejak kecil. Kita bisa melihatnya dalam keluarga, dalam pendidikan, atau dalam budaya kita secara umum, di mana kecantikan bagi perempuan menjadi tolok ukur utama yang lebih diutamakan dibandingkan kedalaman pikirannya. Ketika masih kecil, seorang anak perempuan lebih sering dipanggil "cantik" sebelum ia dipanggil "cerdas." Seolah-olah nilai dirinya ada pada bagaimana orang melihatnya, bukan bagaimana ia melihat dunia. Dalam hal ini, ada pola yang terus berulang, yaitu perempuan memang di didik untuk menjadi cantik, m...

Kultus Skincare, Penjara Baru bagi Perempuan

Gambar
Pernah suatu kali, seorang teman berkata dengan bercanda, "Wajahmu glowing yah kalau di foto? Tapi kalau di dekat, ternyata banyak bintik-bintiknya." Saya hanya tersenyum sambil meneguk secangkir kopi yang baru saja kuseduh. Sebenarnya, kata-katanya tidak menyakitkan, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya di pikiran saya. Mengapa kecantikan kini seolah lebih dari sekadar pujian? Mengapa kita merasa mesti memenuhi standar glowing? Mungkin momen kecil seperti ini hanya sepele, tetapi sebenarnya menunjukkan bagaimana dunia luar terus menilai kita, meski tanpa kita memintanya. Hari ini, kita memang telah sampai pada zaman yang penuh paradoks. Di satu sisi, kita diajar untuk mencintai diri kita apa adanya. Namun di sisi lain, kita terus-menerus di bombardir dengan gambaran ideal tentang penampilan fisik, yang seakan menjadi tolok ukur nilai diri kita di mata masyarakat. Kulit putih, glowing, bercahaya, bebas jerawat, sering kali menjadi standar yang harus dipenuhi, dan sering kali...

Melawan Pelecehan Seksual: Perspektif Simone de Beauvoir

Gambar
Pelecehan seksual ibarat bayangan hitam yang merusak ruang-ruang akademik. Ia tidak datang begitu saja, melainkan tumbuh dari akar yang dalam, yaitu ketimpangan kuasa dan budaya patriarki yang mengakar selama berabad-abad. Kampus, tempat di mana ilmu pengetahuan seharusnya tumbuh subur, sering kali menjadi panggung di mana dominasi dan subordinasi dipertontonkan. Dalam The Second Sex, Simone de Beauvoir menulis dengan lantang: "Laki-laki adalah Subjek, sedangkan perempuan adalah liyan." Pernyataan ini tidak hanya menjadi refleksi sosial, tetapi juga menemukan relevansinya dalam ruang akademik. Mahasiswi yang duduk di bangku kuliah sering kali merasa menjadi "liyan," berada di bawah bayang-bayang otoritas laki-laki. Ketika kekuasaan dosen berubah dari alat mendidik menjadi alat menekan, relasi pedagogis berubah menjadi jerat kekuasaan yang membungkam. Di dalam ruang perkuliahan, konsep liyan menjadi nyata. Mahasiswi bukan sekadar peserta didik, tetapi mereka adalah y...

FILSAFAT MISOGINIS (Serpihan Refleksi Hasil Bacaan Buku Gadis Arivia Filsafat Berperspektif Feminis)

Gambar
Secara umum buku Filsafat Berperspektif Feminis berusaha mengeksplorasi pemikiran para filsuf besar dari zaman Yunani hingga kontemporer. Dari sejumlah filsuf yang diteliti, pemikiran mereka yang mendominasi adalah peminggiran perempuan dan hampir tidak memberikan ruang bagi pemikiran feminis. Dalam penelitiannya, Gadis Arivia menggunakan metode dekonstruksi untuk menganalisis pola pikir maskulin yang mendominasi dan berusaha di-definitif-kan sebagai bentuk epistemologi ideal. Gadis Arivia mengawali tulisannya dalam bukunya itu dengan mempertanyakan kembali validitas filsafat sebagai pengetahuan ‘induk’ yang memuat realitas, keadilan dan kebijaksanaan. Juga filsafat yang dianggap pemegang peranan paling esensial dalam semua ilmu pengetahuan, dengan cirinya yang kritis, radikal, dan universal.  Tetapi sebagaimana dituliskan Gadis Arivia selanjutnya, asumsi di atas membutuhkan verifikasi berupa pertanyaan; “Apa benar filsafat telah memberikan pandangan ...