Budaya Healing: Antara Cinta Diri dan Komodifikasi Luka
Langit sedang mendung ketika saya selesai mengisi seminar diskusi di suatu cafe di Makassar. Saya tidak langsung pulang. Saya lalu duduk di meja yang kosong sambil memesan hidangan yang cocok di saat cuaca mendung. Sembari melanjutkan buku bacaan saya, di meja sebelah, sepasang anak muda sedang asyik bercakap sambil memegang buku dengan sampul bergambar perempuan bersayap, berjudul The Art of Healing. Mereka tertawa kecil, lalu memotret kopi mereka, dan akhirnya swafoto dengan caption, "healing dulu ya." Saya hanya tersenyum. Bukan karena sinis, tetapi karena saya paham bahwa kita semua, mungkin tanpa terkecuali, sedang dalam proses pemulihan. Ada luka yang tidak selesai di masa kecil. Ada tekanan kerja, kehilangan orang tercinta, atau sekadar rasa lelah eksistensial yang tak bisa diberi nama. Kita mencari-cari kata yang tepat, dan akhirnya "healing" menjadi jawaban generik yang diterima oleh publik. Namun demikian, saya bertanya dalam hati. Apa sebenarnya yang s...