Postingan

Menampilkan postingan dengan label Filsafat Kehidupan

Toxic Positivity: Antara Semangat Palsu dan Sunyi yang Terluka

Gambar
Langit sangat cerah hari itu, ketika saya baru saja selesai menemani seorang sahabat lama yang sedang dalam fase hidup yang sulit. Ia baru saja bercerai, kehilangan pekerjaan, dan rasa bersalah yang menumpuk setelah merasa gagal memenuhi ekspektasi orang tua. Kami duduk di pinggir pantai, tak jauh dari sebuah warung, tempatnya memesan kopi tadi. Ia mengaduk kopinya, lalu menghela napas panjang sambil berkata, "Saya sangat lelah, tetapi semua orang bilang saya harus kuat, harus ikhlas, dan harus tetap semangat. Saya menjadi bingung, apakah saya memang tidak boleh merasa lemah?" Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi sesungguhnya memuat keresahan besar. Saya hanya terdiam. Tetapi dalam hati, saya pun pernah menanyakan hal yang sama pada diri sendiri. Dalam hidup yang serba penuh tekanan ini, mengapa kita merasa perlu terus-menerus tersenyum, bahkan ketika hati sedang retak? Mengapa ada rasa bersalah ketika kita tidak mampu merasa bahagia? Kita memang hidup di tengah masyarakat...

Tentang Keinginan dan Cara Kita Menghadapinya

Gambar
Keinginan adalah denyut halus yang membuat manusia selalu merasa hidup. Ia seperti suara kecil dalam dada yang berbisik, "ada sesuatu di luar sana yang mungkin membuatmu lebih utuh." Suara itu bisa lembut seperti desir angin senja, tetapi bisa juga membahana, menyeret kita ke jalan yang tak selalu kita rancang. Saya pribadi telah lama bergumul dengan suara itu. Bukan untuk mematikannya, melainkan untuk duduk bersamanya, berbincang dalam diam, dan mencoba memahami, apa sebenarnya yang ia inginkan? Dalam permenungan saya, dua tokoh yang kiranya menarik untuk membahas perihal keinginan ini. Mereka datang dari dua dunia yang berbeda, yaitu Arthur Schopenhauer (1788-1860), sang filsuf pesimis dari Barat, dan Jalaluddin Rumi (1207-1273), sang penyair cinta dari Timur. Schopenhauer berbicara dalam bahasa kehampaan, sementara Rumi menari dengan cahaya. Dan di antara keduanya, saya mencoba merangkai cara untuk mendudukkan keinginan. Schopenhauer memandang keinginan sebagai sumber utam...

Pena dan Pulih: Ketika Journaling Menjadi Meditasi Harian

Gambar
Pagi terasa dingin, ketika gerimis perlahan membasuh jendela kamar saya. Butir-butir kecilnya menyapu kaca, meninggalkan jejak embun yang memburamkan pandangan ke luar. Di sudut meja, sebuah buku catatan terbuka, masih menyimpan tinta dari tulisan kemarin yang belum sepenuhnya kering. Ada keheningan yang menguar, seolah kata-kata yang tertinggal masih ingin menyampaikan sesuatu. Di dalam ruang sunyi itulah saya kembali menemukan makna menulis sebagai jalan pulang. Pulang kepada diri sendiri, yang mungkin saja sedang terluka, letih, atau bahkan merasa asing di tengah keramaian dunia. Saya percaya bahwa ibadah tidak selalu bersandar pada gerakan ritual. Terkadang, ia tumbuh dari keberanian untuk menyelami diri sendiri. Misalnya, dari goresan yang jujur, atau dari keheningan yang dipeluk. Dalam praktik itulah saya mengenal journaling. Sebuah aktivitas sederhana yang lambat-laun menjadi semacam laku spiritual harian saya. Ia bukan semata kegiatan mencatat kejadian, tetapi lebih sebagai up...