Akademia: Antara Gedung Indah dan Kelesuan Intelektual
Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya ketika membaca catatan seorang cendekia, yang sekaligus dosen saya, Prof. M. Qasim Mathar. Beliau seorang akademisi yang tidak hanya berpikir tetapi lebih untuk merasakan denyut kampus sebagai ruang hidup intelektual. Dalam tulisannya yang berjudul Kegersangan Akademik (Jendela Langit, 12 Juli 2025), Prof. Qasim berbagi cerita dari seorang sahabatnya, mahasiswa doktoral di Sydney, yang merindukan suasana kampus yang dulu hidup oleh tulisan dan diskusi. Sebuah masa di mana satu artikel koran cukup untuk memantik dialog panjang antara mahasiswa dan dosen. Tetapi kini, tulis-menulis menjadi beban administratif. Diskusi kian langka. Akademisi tenggelam dalam rutinitas birokrasi yang kering dan tak menyisakan ruang untuk berpikir jernih. Dalam suasana inilah, beliau mengajak kita semua, dosen, mahasiswa, bahkan kampus pesantren sekalipun, untuk bersama-sama menghidupkan kembali apa yang pernah menjadikan universitas begitu bernyawa. Kampus seharusnya ...