Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pemikiran Musdah Mulia

Sebuah Perjalanan Pemikiran: Telaah atas Perjalanan Lintas Batas Karya Musdah Mulia

Gambar
Tak bisa disangkal, kita hidup dalam dunia yang gemar memberi batas. Antara laki-laki dan perempuan, antara Muslim dan non-Muslim, antara yang disebut saleh dan yang dituduh sesat. Dalam realitas yang sarat sekat itu, buku ini hadir seperti hujan pertama yang menyapa tanah kering. Membawa harapan, menyuburkan dialog, dan merayakan perjumpaan. Perjalanan Lintas Batas bukan sekadar judul. Tetapi lebih sebagai kesaksian. Kesaksian seorang perempuan, cendekia, dan pejuang yang berjalan menembus sunyi meski tubuh terluka, pikiran yang mengendap, dan hati yang masih percaya bahwa iman dan cinta bisa menjembatani segala yang koyak. Buku ini bukan sekadar refleksi, tetapi lebih sebagai doa panjang yang dirangkai dalam narasi yang jujur, halus, dan tajam. Prof. Musdah menulis buku ini, bukan dari menara gading akademik, tetapi dari lorong-lorong perjuangan. Dari ruang-ruang dialog antar-iman yang hangat meski tegang, dari sunyi perempuan yang disalahpahami oleh tafsir yang kaku, dari perjalana...

Silaturahmi Intelektual Bersama Prof. Musdah Mulia

Gambar
Lebaran haji tahun ini, terasa istimewa. Saya berkesempatan silaturahmi ke kediaman Prof. Musdah Mulia di Makassar. Rasanya, bukan hanya silaturahmi biasa tetapi lebih sebagai silaturahmi intelektual yang hangat dan membekas. Prof. Musdah berbicara banyak hal. Seperti literasi, agama, budaya, pendidikan, keadilan, dan banyak lagi. Saya senang dengan gaya bertutur Prof. Musdah yang hangat, dan cukup memperkaya pikiran. Salah satu hal yang kami bincangkan adalah soal gelar akademik. Di Indonesia, gelar seolah menjadi jimat. Ia membuka pintu karier, menegaskan status sosial, bahkan menentukan siapa yang layak bicara dan siapa yang layak diam. "Kalau orang bodoh bisa menjadi doktor dan profesor, kenapa orang pintar tidak bisa?" Kata Prof. Musdah. Kalimat itu tak dimaksudkan sebagai cemoohan, melainkan sebagai dorongan. Bahwa ilmu dan gelar tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi disinergikan. Bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh berpikir, seharusnya juga mengambil posisi penti...

MUSDAH MULIA DALAM ENSIKLOPEDIA MUSLIMAH REFORMIS

Gambar
Buku berjudul “Ensiklopedia Muslimah Reformis) ini ditulis oleh Prof. Musdah Mulia, terbitan Dian Rakyat Jakarta, edisi pertama tahun 2019, dalam jumlah halaman 786 keseluruhan. Mengawali tulisannya, Musdah Mulia menulis pernyataan di halaman pengantar yang masih problematis di negeri ini, “Sungguh Mulia Al-Qur’an, yang memulai ayat-ayatnya dengan kata iqra’ (bacalah). Membaca adalah aktivitas akal yang sangat penting. Kita tidak bisa membicarakan agama hanya berdasarkan kitab suci atau wahyu, tetapi penting juga membahasnya berdasarkan pergumulan rasional manusia dalam kehidupan nyata”. Di Indonesia, harus diakui membaca masih didominasi literalis, pun penggunaan akal mengalami pembatasan yang rancu sehingga melahirkan cara pandang tidak dinamis dan cenderung konservatif. Ini dibuktikan sebagaimana dikutip Musdah Mulia, "Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk 2015 masih menduduki peringkat 113 dari 188 negara dan wilayah". Buku "Ensiklopedia Muslimah Reformis" ini,...