Tuhan, Tradisi, dan Kartini: Renungan Seorang Perempuan
Hari masih pagi, ketika saya sedang duduk di beranda rumah di kampung, sembari berbincang lewat telepon dengan seorang teman di Jepara, tempat kelahiran Kartini. Hujan baru saja reda, cuaca sangat dingin, lalu sesekali saya meneguk teh hangat yang baru saja kuseduh. Kami sedang berbincang tentang perempuan, pendidikan, dan tradisi. Tiba-tiba saja ia mengirim pesan gambar via WhatsApp. Rupanya secarik kertas berisi kutipan dari surat Kartini (1879–1904) kepada sahabatnya, Abendanon (1870–1948). Tertulis dalam kutipannya: "Habis gelap terbitlah terang. Aku ingin perempuan menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menjadi istri atau ibu." Saya membacanya, lalu terdiam lama. Kalimat itu begitu ringkas, namun membuka lubang-lubang panjang dalam pikiran saya. Kartini bukan sekadar sosok sejarah. Tetapi ia adalah suara dalam diri saya yang sejak lama bergema samar, sering tenggelam oleh kebisingan dogma dan batas-batas yang diwariskan. Nama itu selalu datang dan pergi, seperti udara y...