Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mistisisme

Tuhan, Tradisi, dan Kartini: Renungan Seorang Perempuan

Gambar
Hari masih pagi, ketika saya sedang duduk di beranda rumah di kampung, sembari berbincang lewat telepon dengan seorang teman di Jepara, tempat kelahiran Kartini. Hujan baru saja reda, cuaca sangat dingin, lalu sesekali saya meneguk teh hangat yang baru saja kuseduh. Kami sedang berbincang tentang perempuan, pendidikan, dan tradisi. Tiba-tiba saja ia mengirim pesan gambar via WhatsApp. Rupanya secarik kertas berisi kutipan dari surat Kartini (1879–1904) kepada sahabatnya, Abendanon (1870–1948). Tertulis dalam kutipannya: "Habis gelap terbitlah terang. Aku ingin perempuan menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menjadi istri atau ibu." Saya membacanya, lalu terdiam lama. Kalimat itu begitu ringkas, namun membuka lubang-lubang panjang dalam pikiran saya. Kartini bukan sekadar sosok sejarah. Tetapi ia adalah suara dalam diri saya yang sejak lama bergema samar, sering tenggelam oleh kebisingan dogma dan batas-batas yang diwariskan. Nama itu selalu datang dan pergi, seperti udara y...

Tren Minimalisme: Seni Mengatur Hasrat dan Merayakan Kesederhanaan

Gambar
Sejak dulu, saya selalu tertarik mengamati bagaimana manusia menjalani hidupnya. Sebagian mereka memilih untuk terus mengejar lebih banyak, sebagian lagi memilih untuk melepaskan. Ada yang mengisi hari-harinya dengan tumpukan ambisi dan kesibukan, lalu ada juga yang perlahan memisahkan diri dari riuhnya dunia, sembari mencari makna dalam kesunyian. Pernah suatu hari, saya sedang duduk di kantin kampus. Seorang teman yang sudah lama tidak saya jumpai datang menghampiri. Percakapan kami melebar dari kenangan lama hingga ke perbincangan soal hidup yang semakin penuh dengan tuntutan. Ia lalu berkata, "Hidup ini memang lucu ya, semakin banyak yang kita miliki, semakin sering kita merasa kehilangan." Pernyataannya membuat saya diam cukup lama. Ada benarnya juga, bahwa semakin kita menumpuk harta, benda, pengalaman, bahkan pencapaian, justru semakin sering kita merasa kosong. Seakan-akan dalam upaya untuk mengisi hidup, kita malah kehilangan esensi dari kehidupan itu sendiri. Tren m...